Kamis, 08 Desember 2011

Festival Lereng Gunung Ungaran 2011

Festival  Lereng  Gunung  Ungaran  2011
SMA  Negeri 1  Limbangan, Kab. Kendal
13 – 15 Desember 2011

1.      Latar Belakang
Kawasan Gunung Ungaran yang berada pada tiga wilayah kabupaten/kota yakni Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang menyimpan potensi budaya yang sangat besar terutama pada kawasan pedesaannya. Hampir di setiap desa pada kawasan ini dijumpai bentuk kesenian rakyat yang masih terpelihara dengan baik. Kesenian rakyat ini sering ditampilkan pada acara-acara khusus misalnya perayaan HUT kemerdekaan RI, pernikahan, dan sedekah desa (Merti Desa/Kadesa), yakni semacam tasyakuran atas hasil panen atau bisa juga ditafsirkan untuk mengenang sejarah desa serta pendirinya. Bentuk kesenian rakyat itu sangatlah beragam, antara lain kuda lumping/kuda kepang, prajuritan, soreng, ketoprak, dan rodat.
Beragam bentuk kesenian rakyat seperti yang tersebut di atas terpelihara dengan sangat baik merakyat, mengakar kuat dan digemari oleh masyarakat setempat. Hampir di setiap desa/kecamatan memiliki kesenian rakyat. Yang paling populer adalah kuda lumping dan prajuritan. Kesenian berupa tarian sekelompok prajurit dengan mengendarai kuda kepang yang berlaga di medan perang. Kesenian inilah yang paling sering dipentaskan pada acara-acara khusus. Sebutannya bisa bermacam-macam, ada yang menyebutnya jaran kepang, jathilan, atau reyog. Namun cirinya tetap sama yakni menggunakan perangkat kuda kepang. Iringan musik gamelannya sederhana (dilihat dari perangkat gamelan yang digunakan serta komposisi musiknya) yang menggambarkan kesederhaan masyarakat desa. Para seniman yang terlibat di dalamnya adalah anggota masyarakat desa setempat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani, atau seniman petani. Artinya berkesenian bukanlah sebuah profesi tetapi sudah merupakan bagian dari budaya yang melekat dalam hidup mereka yang dilakoni dengan penuh kecintaan dan keikhlasan tanpa mengharapkan keuntungan secara finansial. Namun sayang, sampai dengan saat ini belum ada even dengan skala yang cukup besar untuk menampung kreativitas berkesenian mereka sehingga kiprah mereka dalam berkesenian belum terdengar gaungnya di wilayah Jawa Tengah. Hal ini sangat jauh berbeda dengan kawan-kawan mereka dari wilayah Kabupaten Magelang yakni dengan adanya Festival 5 Gunung.
Melihat potensi budaya dan semangat berkesenian masyarakat Lereng Gunung Ungaran yang begitu besar serta sebagai wujud penghargaan terhadap semangat berkesenian mereka maka perlu diupayakan adanya suatu kegiatan yang melibatkan seniman dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang yang berada di kawasan Lereng Gunung Ungaran. Salah tujuannya adalah untuk memperkenalkan potensi budaya kawasan Lereng Ungaran, utamanya Kabupaten Kendal karena kegiatan diselenggarakan di wilayah Kabupaten Kendal, kepada masyarakat luas yang diharapkan akan berdampak pada industri pariwisata Kabupaten Kendal. Oleh karena itulah maka kegiatan Festival Budaya ini dipandang perlu untuk diselenggarakan. 



2.      Tema
Festival Budaya Lereng Gunung Ungaran  ini diselenggarakan dengan tema “Lestari Budaya Negeri”. Tema ini dipilih karena keragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan menjadi identitas bangsa ini perlu dilestarikan. Diharapkan dengan dipilihnya tema ini kelestarian budaya bangsa Indonesia, khususnya budaya Jawa bisa terus dilestarikan sebagai warisan luhur yang tak ternilai harganya.

3.      Tujuan
Festival Budaya Lereng Ungaran ini dilaksanakan dengan tujuan :
3.1    Memperkenalkan dan mempromosikan potensi budaya Kabupetan Kendal yang berada di kawasan Lereng Gunung Ungaran kepada masyarakat luas yang diharapkan dampak berdampak pada industri pariwisata di Kabupaten Kendal.
3.2    Meningkatkan daya jual pariwisata Kabupetan Kendal karena adanya agenda kegiatan Festival Budaya yang diselenggarakan secara tetap setiap tahun.
3.3    Membangkitkan semangat berkesenian di kalangan seniman Kabupaten Kendal yang diharapkan dapat berdampak pada semakin giatnya kesenian di Kabupaten Kendal.
3.4    Melestarikan kesenian rakyat sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya bangsa.
3.5    Sebagai ajang kreativitas para seniman dari Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang.
3.6    Memperkenalkan potensi SMA Negeri 1 Limbangan kepada masyarakat luas khususnya masyarakat Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang.

4.      Bentuk Kegiatan dan Peserta
Bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dalam Festival Budaya 2011 ini adalah :
4.1    Pentas Seni
Pentas Seni Siswa SMA Negeri 1 Limbangan yang berupa band performance, modern dance, tari tradisional, fashion show, drama bahasa Inggris dan bintang tamu “Semar Java” dari Semarang serta ‘’The Angelo’’ dari Jakarta.
4.2    Festival Kesenian Rakyat
Pesertanya adalah kelompok kesenian rakyat sekitar Lereng Gunung Ungaran. Bentuk kesenian yang ditampilkan seperti Kuda Lumping, Prajuritan, Soreng, dan sejenisnya. Peserta merupakan kelompok kesenian rakyat yang dipilih dari ketiga kabupaten/kota seperti tersebut di atas dengan pertimbangan keragaman jenis keseniannnya. Komposisinya adalah 9 kelompok kesenian rakyat dari Kabupaten Kendal, 3 kelompok dari Kabupaten Semarang, dan 1 kelompok dari Kota Semarang, dengan catatan mereka berasal dari kawasan Lereng Gunung Ungaran sesuai dengan nama kegiatan ini. Jumlah secara keseluruhan adalah 13 Kelompok kesenian rakyat.
4.3    Kompetisi Bola Voli Putra-Putri SMP
Pesertanya adalah 12 SMP yang diundang untuk mengikuti kompetisi dari wilayah eks Kawedanan Boja

5.      Wasit dan Yuri
Wasit pertandingan bola voli adalah wasit dari PBVSI Kendal dan Yuri Kesenian Rakyat adalah anggota Dewan Kesenian Kendal.

6.      Hadiah
6.1    Kompetisi Bola Voli Juara I, II, dan III memperoleh tropi dan sertifikat.
6.2    Festival Kesenian Rakyat memperebutkan Piala Bupati Kendal. Juara Umum, Juara I, Juara II, Juara III, Juara Harapan I & II akan memperoleh tropi, sertifikat, dan uang pembinaan.
Aspek penilaian mencakupi koreografi, iringan, tata rias dan kostum, penampilan, dan kekompakan.

7.      Jadwal Kegiatan
7.1    Kompetisi Bola Voli hari Minggu – Senin, 11 – 12 Desember 2011 mulai pukul 08.00 WIB bertempat di kampus SMA Negeri 1 Limbangan.
7.2    Pentas Seni dan Festival Kesenian Rakyat

No
Kegiatan
Hari, tanggal
Waktu
1.
Upacara Pembukaan oleh Bupati Kendal dan dihadiri oleh Pejabat Teras Kabupaten Kendal
-          Tari Gambyong
-          Tari Warak
-          Tari Prajuritan oleh kelompok kesenian Kondang Prawiro Tomo dari Kabupaten Semarang
Selasa
13 Desember 2011
08.30 – 09.30

2.
Pentas Seni
-          Band, fashion show, tari tradisional, modern dance, drama bahasa Inggris.
-          Bintang tamu ‘’ The Angelo’’ dari Jakarta dan ‘’Semar Java’’ dari Semarng
-          Seni Tradisional Turonggo Mudo dari Kabupten Kendal
Selasa
13 Deember 2011
10.00 – 14.00




14.00 - selesai
3.
Festival Kesenian Rakyat
-          Turonggo Aji, dari Kab. Semarang
-          Turonggo Tresno Budoyo, dari Kab. Kendal
-          Turonggo Hesti, dari Kab. Kendal
-          Satriyo Budoyo Mudo, dari Kota Semarang
-          I  s  t  i  r  a  h  a t
-          Wahyu Turonggo Sakti, dari Kab. Semarang
-          Turonggo Wahyu Utomo, dari Kab. Kendal
-          Turonggo Hesti Putri, dari Kab. Kendal
Rabu
14 Desember 2011

09.30 – 10.00
10.10 – 10.50
11.00 – 11.30
11.40 – 12.10

13.00 – 13.30
13.40 – 14.10
14.20 - selesai
4.
Festival Kesenian Rakyat
-          Krido Mudo, dari Kab. Kendal
-          Hargo Turonggo Bekso, dari Kab. Kendal
-          Sanggar Nyi Pandansari, dari Kab. Kendal
-          Turonggo Tri Madyo Utomo, dari Kab. Kendal
-          I  s  t  i  r  a  h  a t
-          Argo Laras, dari Kab. Kendal
-          Sanggar Nyi Pandansari, dari Kab. Kendal
-          Turonggo Hesti Putri, dari Kab. Kendal
-          Pengumuman, penyerahan hadiah dan Penutup
Kamis
15 Desember 2011

09.30 – 10.00
10.10 – 10.50
11.00 – 11.30
11.40 – 12.10

13.00 – 13.30
13.40 – 14.10
14.20 – 15.00
15.00 - selesai

Panitia berharap agar kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin dua atau tiga tahun sekali di masa-masa yang akan datang dengan melibatkan seniman yang lebih luas dan dengan kegiatan budaya yang beragam.


                                                                    Limbangan, 8 Desember 2011
                                                       Panitia Festival Lereng Gunung Ungaran 2011
                                                                                   Sekretaris I,

                                                                                 Sukardiwanta

Jumat, 06 November 2009

Resensi

Hakikat Resensi
Resensi berasal dari bahasa Latin revidere atau recencere yang artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Dalam bahasa Inggris resensi dikenal dengan istilah review. Resensi adalah tulisan yang berisi pengulasan atau penilaian suatu hasil karya atau buku dengan cara memberikan komentar secara objektif sehingga setelah membaca resensi orang lain akan tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca karya orang lain.

Tujuan Resensi
Pembuatan resensi sekurang-kurangnya mempunyai lima tujuan, yaitu:
1. memberikan informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang terungkap dalam sebuah buku
2. mengajak pembaca untuk memikirkan, merenungkan, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau problema yang muncul dalam sebuah buku
3. memberikan pertimbangan kepada pembaca apakah sebuah buku pantas mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak

Dasar-dasar Resensi
Dasar-dasar resensi ada empat, yaitu
1. Peresensi menyadari sepenuhnya tujuan pengarang buku itu. Tujuan pengarang dapat diketahui dari kata pengantar atau pendahuluan buku. Kemudian, dicari apakah tujuan itu direalisasikan dalam seluruh bagian buku.
2. Peresensi menyadari sepenuhnya tujuan meresensi buku karena sangat mementukan corak resensi yang dibuat
3. Peresensi memahami betul latar belakang pembaca yang menjadi sasarannya: selera, tingkat pendidikan, dari kalangan macam apa dan sebagainya
4. Peresensi memahami karakteristik media cetak yang akan memuat resensi.


          Buku yang diresensi biasanya adalah buku terbitan baru. Oleh karena itu, sifat resensi yang harus dipenuhi adalah nilai informasinya bagi pembaca. Sebuah resensi harus memberikan informasi yang lengkap kepada pembaca mengenai buku yang diresensi itu. Di samping nilai informasi, sebuah resensi juga mengandung nilai advertensi. Maksudnya, resensi itu diupayakan agar pembaca tertarik untuk membaca buku itu.
          Resensi buku biasanya dimuat di surat kabar atau majalah. Penggunaan bahasa resensi cenderung singkat dan hemat. Pemilihan karakter bahasa resensi disesuaikan dengan karakter media cetak dan karakter pembaca yang akan menjadi sasarannya. Di samping itu, penyajian tulisan resensi bersifat padat, singkat, mudah ditangkap, menarik, dan enak dibaca. Tulisan yang menarik dan enak dibaca artinya enak dibaca baik oleh redaktur maupun oleh pembaca.


Pola/Corak Resensi

Ada tiga pola tulisan resensi, yaitu:
1. Meringkas (sinopsis), berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas.Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang singkat dan padat.
2. Menjabarkan (deskripsi), berarti menjabarkan atau mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsi yang sudah dilakukan. Bila perlu bagian-bagian yang mendukung uraian dikutip.
3. Mengulas, berarti menyajikan ulasan sebabagi berikut:
• isi atau materi buku yang sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diulas (diinterpretasikan)
• organisasi atau kerangka buku
• bahasa
• kesalahan cetak
• membandingkan (komparasi) dengan buku-buku sejenis)
• menilai, mencakupi kesan peresensi terhadap buku, terutama yang berkaitan dengan keunggulan dan kelemahan buku.

Langkah-langkah Menyusun Resensi
Langkah-langkah dalam meresensi buku adalah sebagai berikut:
1. Penjajakan atau pengenalan buku yang diresensi.
2. Membaca buku yang diresensi secara komprehnsif, cermat, dan teliti.
3. Menandai bagian-bagian buku yang diperhatikan secara khusus dan menentukan bagian-bagian yang dikutip untuk dijadikan data.
4. Membuat sinopsi atau intisari buku.
5. Menetukan sikap dan menilai hal-hal yang meliputi:
• organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan antara bagian satu dengan yang lain, apakah hubungan itu harmonis, jelas, dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal, bagaimana sistematikanya, dan bagaimana dinamikanya)
• isi pernyataan (bagaimana bobot idenya, bagaimana analisisnya, bagaimana penyajian datanya, dan bagaimana kreativitas pemikirannya)
• bahasa ( bagaimana ejaan, struktur kalimatnya, pilihan katanya dll)
• aspek teknis (bagaimana tata letak, perwajahan, kebersihan dan kerapian pencetakannya)
6. Mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar-dasar dan kriteria-kriteria yang kita tentukan sebelumnya.

Unsur- Unsur Resensi
Unsur-unsur pembangun resensi adalah sebagai berikut:
a. Judul Resensi
Judul resensi hendaknya menarik perhatian pembaca. Judul resensi yang menarik berarti merangsang keinginan orang lain untuk membaca. Judul resensi bukan merupakan judul buku yang diresensi. Judul resensi biasanya mencerminkan pandangan peresensi setelah mencermati buku yang bersangkutan.

b. Data Buku
Data buku meliputi: judul buku (jika buku terjemahan termasuk judul aslinya); pengarang; penerbit; tahun terbit; tebal buku; harga buku (jika diperlukan).

c. Pembukaan (Lead)
Pembukaan dalam resensi buku dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
memperkenalkan pengarang, bagaimana latar belakang pendidikannya, karyanya berbentuk apa saja, prestasi apa saja yang pernah diraih dsb.
• Membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis baik oleh pengarang sendiri maupun orang lain.
• Memaparkan kekhasan atau sosok pengarang

d. Tubuh atau Pernyataan Resensi
Tubuh resensi biasanya memuat hal-hal berikut ini:
• Sinopsis atau ringkasan buku
• Ulasan singkat buku dengan kutipan seperlunya
• Keunggulan buku
• Kelemahan buku
• Rumusan kerangka buku ( jumlah bab dengan atau tanpa pembahasan )
• Organisasi atau kerangka penulisan (bagaimana hubungan satu bagian dengan bagian yang lain, apakah harmonis, jelas, masuk akal, dan bagimana dinamikanya)
• Isi pernyataan (bagaimana bobot idenya, bagaimana analisisnya, bagaimana kreativitas pemikirannya)
• Tinjauan bahasa (mudah tau berbelit-belit)
• Adanya kesalahan cetak

e. Penutup Resensi
Penutup biasanya berisi penjelasan apakah buku itu penting dibaca atau tidak.


(disarikan dari materi Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Bahasa Indonesia SMA/MA
Rayon 12 tahun 2009 UNNES Semarang)

Kamis, 05 November 2009

Drama

Hakikat Drama

       Drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan mengemukakan konflik dan emosi lewat lakuan dan dialog, dan lazimnya dirancang untuk pementasan di panggung.
Drama memiliki karakter khusus, yaitu berdimensi sastra dan berdimensi pertunjukan. Sebagai sebuah genre sastra, drama dibangun oleh unsur-unsur , tokoh, alur, latar, tema, amanat, serta dialog. Sebagai sebuah pertunjukan, drama dibentuk oleh unsur seni pertunjukan, yaitu naskah, pementasan, dan penonton.
        Dialog merupakan sarana primer drama. Dilihat dari sisi pengarang, dialog merupakan sarana untuk menyampaikan informasi, fakta, dan ide-ide utama. Dialog juga berfungsi untuk memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh. Di sisi lain, dialog juga dapat menciptakan serta melukiskan suasana.
Hakikat drama adalah konflik. Konflik merupakan penggerak cerita. Adanya konflik menyebabkan munculnya dramatic action. Konflik di dalam drama dapat bersifat internal (konflik seseorang dengan dirinyan sendiri), dan konflik eksternal (konflik tokoh dengan sesuatu di luar dirinya, baik dengan tokoh lain maupun dengan lingkungannnya).


Unsur-unsur Drama

Sebagai dimensi sastra, unsur drama meliputi tokoh dan penokohan, alur, latar, tema (premise), amanat, serta dialog.

a. Tokoh
Tokoh adalah individu rekaan yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa dalam drama. Di dalam drama terdapat beberapa tokoh:
  • Tokoh Mayor (penting) dan Tokoh Minor (tokoh yang tidak penting)
  • Tokoh Protagonis, yaitu tokoh yang pertama-tama berprakarsa dan berperan sebagai penggerak cerita. Ia yang pertama-tama menghadapi masalah dan terlibat dalam kesukaran-kesukaran. Biasanya kepada tokoh inilah pembaca berempati.
  • Tokoh Antagonis, yaitu tokoh yang berperan sebagai penghalang bagi tokoh protagonis.
  • Tokoh Tritagonis, yaitu tokoh yang berperan menjadi penengah tokoh protagonis dan antagonis.
  • Ada pula tokoh yang secara tidak langsung terlibat dalam konflik tetapi kehadirannya diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita, yang disebut peran pembantu. Contoh peran pembantu adalah tokoh kepercayaan (confidant) yang menjadi kepercayaan tokoh protagonis atau antagonis.

b. Alur
      Alur adalah rangkaian peristiwa yang disusun berdasarkan hukum sebab-akibat. Menurut Aristoteles (384-322 SM), berdasarkan telaahnya terhadap kaarya-karya Sophocles (495-406 SM), secara struktural lakon/cerita drama terdiri atas lima bagian yaitu:

  • Eksposisi (pembukaan), yaitu bagian cerita yang berisi keterangan mengenai berbagai hal yang diperlukan untuk memahami peristiwa-persitiwa berikutnya. Keterangan tersebut dapat mengenai tokoh cerita, masalah yang timbul, latar, dan sebagainya.
  • Komplikasi (penggawatan), adalah bagian yang merupakan lanjutan dan peningkatan dari eksposisi. Di dalam bagian ini salah seorang tokoh mulai mengambil prakarsa untuk mencapai tujuan tertentu. Akan tetapi hasil dari prakarsa itu tidak pasti. Pada bagian ini terjadi konflik. Konflik tokoh protagonis dengan antagonis merupakan dasar cerita drama. Konflik itu berkembang terus dan semakin memuncak. Oleh karena itu bagian ini disebut juga dengan penanjakan rissing action.
  • Klimaks (puncak), adalah bagian cerita yang menempatkan tokoh protagonis dan antagonis untuk melakukan perhitungan terakhir yang menentukan. Di sinilah ketegangan mencapai puncaknya dan di sini pula nasib para tokohnya ditentukan.
  • Konklusi (penyelesaian), adalah bagian cerita tempat pengarang mengakhiri lakon. Pada bagian ini nasib para tokoh sudah pasti dan semua konflik sudah teratasi.

c. Latar
       Latar adalah segala petunjuk atau keterangan mengenai waktu, tempat, dan suasana terjadinya persitiwa di dalam drama. Petunjuk itu dapat diperoleh melalui petunjuk pengarang, gambaran tokoh, tingkah laku tokoh, dan dialog antartokoh.

d. Tema (premise)
        Tema adalah inti permasalahan yang hendak dikemukakan oleh pengarang. Oleh sebab itu, tema merupakan simpulan dari berbagai peristiwa yang terkait dengan penokohan dan latar. Dalam sebuah drama, terdapat banyak peristiwa yang masing-masing mengemban permasalahan, tetapi hanya ada sebuah tema sebagai intisari dari permasalahan-permasalahan tersebut.
       Amanat adalah opini, kecenderungan, atau visi pengarang terhadap tema yang dikemukakan. Amanat dapat pula dimaknai sebagai pesan yang hendak disampaikan pengarang melalui karya drama yang bersangkutan. Amanat dalam drama mungkin lebih dari satu asal semuanya terkait dengan tema. Amanat merupakan kristalisasi dari berbagai peristiwa, perilaku tokoh, dan latar drama.

e. Bahasa/Dialog
       Penggunaan bahasa dalam drama terilhat dari dialog. Bahasa dalam dialog dapat mencerminkan karakter tokoh, suasana, dan latar cerita. Oleh karena itu, jika seorang tokoh berada pada situasi, emosi, dan peran yang berbeda, penggunaan bahasanya pun berbeda.

Unsur Pementasan Drama
Sebagai pertunjukan, unsur-unsur utama drama adalah sebagai berikut:
  • Naskah Drama (skenario)
  • Aktor/aktris: pemeran dalam pementasan drama
  • Awak pementasan di balik pertunjukan (sutradara, assisten sutradara, penata setting, penata musik, penata kostum dan rias dll)
  • Panggung/pentas
  • Penonton

Anatomi Naskah Drama
Naskah drama biasanya terdiri atas
  • Babak, yaitu bagian dari naskah drama yang merangkum semua peristiwa yang terjadi di suatu tempat pada urutan waktu tertentu.
  • Adegan, yaitu bagian dari babak yang batas-batasnya ditentukan oleh datang atau perginya pemain ke/dari pentas.
  • Petunjuk pengarang, ialah bagian dari naskah drama yang memberikan penjelasan kepada pembaca atau awak pementasan (sutradara, pemain, penata artistik dll.) mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan dan sifat tokoh. Petunjuk pengarang biasanya ditulis dalam tanda baca kurung.
  • Prolog, adalah pengantar naskah yang dapat berisi keterangan atau pendapat pengarang tentangcerita yang akan disajikan.
  • Epilog, adalah penutup naskah drama yang biasanya berisi simpulan pengarang mengenai cerita kadang-kadang disertai pula nasihat atau pesan, ada pula yang disertai ucapan terima kasih kepada penonton yang dengan sabar telah menyaksikan pementasan.
  • Solilokui, adalah bagian naskah drama yang berisi ungkapan pikiran dan perasaan tokoh kepada diri sendiri, baik pada saat ada tokoh lain maupun terutama ketika tokoh itu sedang sendiri.
  • Aside, adalah bagian naskah drama yang berisi ucapan seorang tokoh yang ditujukan kepada penonton dengan pengertian bahwa tokoh lain yang ada di pentas tidak turut mendengar.


Unsur-unsur Artistik Pementasan Drama
  • Setting (tata panggung), disesuaikan dengan tuntutan naskah
  • Lighting (tata cahaya), penggunaan lampu (pencahayaan) disesuaikan dengan adegan, suasana, dan latar cerita. Hal yang perlu diperhatikan adalah arah cahaya, warna, dan intensitas (kekuatan cahaya).
  • Musik. Musik dalam drama berperan mendukung dan menegaskan isi cerita dan adegan. Tidak harus setiap adegan disertai dengan adanya alunan musik, kecuali drama itu berbentuk drama musikal.
  • Busana. Busana (kostum) dalam drama disesuaikan dengan tuntutan cerita.
  • Tata rias. Tata rias (make up) wajah haruslah mendukung dan menguatkan karakter tokoh yang diperankan. Make up tidak bertujuan untuk membuat aktor/aktris menjadi lebih ganteng atau cantik, tetapi lebih menekankan pada penegasan karakter tokoh. Make up semacam ini dikenal dengan istilah make up karakter.